FS88 JOURNAL EUR TEMPLATE

Sikap Dovish ECB Membangkitkan Kembali Gairah Bagi USD

ForexSignal88.com l Jakarta, 30/03/2019 – Pada akhir sesi Jumat (29/3), dolar AS berhasil membukukan triple-green: positif pada penutupan harian, mingguan, dan bulanan.

Data MetaTrader yang digunakan tim analisis pasar keuangan ForexSignal88.com (FS88) menunjukkan pada basis harian indeks dolar AS berakhir positif 0,015 persen, pada grafik mingguan naik 0,23 persen, dan pada basis bulanan ditutup menghijau 0,75 persen. Euro dan pound sterling menjadi “korban” dolar AS yang paling menderita.

Mengawali sesi perdagangan pekan lalu (25-29 Maret), dolar AS diperdagangkan lebih rendah terhadap para pesaingnya karena imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS memperpanjang penurunan dari minggu sebelumnya di tengah kekhawatiran atas perlambatan pertumbuhan global.

Fokus para investor saat itu terus berpusat pada penurunan imbal hasil Treasury menyusul inversi bagian dari kurva imbal hasil di minggu lalu.

Kurva imbal hasil berfungsi sebagai semacam indikator bagi perekonomian suatu negara dan ketika kurva imbal hasil antara dua obligasi berpotongan maka resesi cenderung mengikuti. Inversi kurva imbal hasil telah mendahului setiap resesi selama 60 tahun terakhir.

Kurva imbal hasil AS terbalik setelah imbal hasil pada obligasi Treasury 3-bulan bergerak di atas imbal hasil Treasury 10-tahun untuk pertama kalinya sejak pertengahan 2007.

Perlahan Pasar Abaikan Inversi Imbal Hasil Treasury AS

Namun yang terjadi di hari-hari selanjutnya adalah dolar AS terus bangkit. Ada beberapa faktor yang menjadi pemicu perlawanan greenback, salah satunya adalah sikap dovish beberapa bank sentral selain Federal Reserve, terutama bank sentral Eropa (ECB).

Para investor juga menepis data awal perumahan dan indeks keyakinan konsumen AS yang mengecewakan sehingga penjualan dolar AS termoderasi karena ekspansi ekonomi AS masih berada di jalur untuk mencapai rekor jangka panjang tahun ini meskipun ada bukti penurunan sejak akhir 2018.

Dolar AS saat itu tetap stabil meskipun ada laporan pemerintah yang menunjukkan para pengembang AS untuk rumah keluarga tunggal mencatatkan laju paling lambat dalam lebih dari 1½ tahun pada bulan Februari.

Sementara itu Conference Board mengatakan pengukuran mood konsumen AS merosot ke 124,1 pada bulan Maret, kurang dari perkiraan para ekonom sebesar 132,0.

Faktor lain adalah Brexit dan politik Inggris. Dengan diambil alihnya kendali Brexit dari tangan Perdana Menteri Theresa May oleh Parlemen Inggris, pasar semakin cemas terhadap akhir dari drama kepergian Inggris dari Uni Eropa dan dampaknya terhadap stabilitas ekonomi negara tersebut.

Akhirnya pada sesi terakhir bulan lalu, dolar AS berakhir lebih tinggi karena sebagian besar data ekonomi suram tidak banyak menafikan narasi perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Trio laporan yang menunjukkan rebound dalam penjualan rumah baru, inflasi yang lemah, dan pengeluaran konsumen yang lebih lemah, memang sedikit menambah ekspektasi bahwa The Fed akan segera menurunkan suku bunga, yang kemungkinan akan memberikan tekanan pada greenback.

Ukuran inflasi yang disukai The Fed, indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), tidak termasuk makanan dan energi, melambat menjadi 1,8% dalam 12 bulan sampai Januari, meleset dari perkiraan ekonom sebesar 1,9%.

Namun lagi-lagi pelemahan dolar AS dibatasi oleh penurunan sterling karena Perjanjian Penarikan (Withdrawal Agreement), bagian dari kesepakatan Brexit, ditolak oleh anggota Parlemen Inggris yang memilih dengan 344 banding 286 suara menolak Perjanjian Penarikan yang diajukan pemerintah.

Hasil pemungutan suara akan memiliki implikasi “serius”, May menegaskan. Dia menambahkan bahwa “legal default” adalah Inggris akan meninggalkan Uni Eropa pada 12 April.

Fakta itu menimbulkan kekhawatiran pasar lagi bahwa No-deal Brexit bisa kembali berada di cakrawala.

Selanjutnya anggota parlemen negara itu akan bertemu lagi pada hari Senin untuk memilih serangkaian opsi untuk menemukan jalan keluar dari kekisruhan politik saat ini. Skenario Brexit yang mungkin termasuk opsi mereka adalah penggelaran referendum baru, pencabutan Pasal 50, No-deal Brexit, dan pemilihan umum.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *