Economic Slowdown

Sekilas Forex: Peringatan Baru Terhadap Resiko Global Economic Slowdown

 GBPUSD 

WEEKLY OUTLOOK :  NEGATIF DENGAN RISK REBOUND PADA TF 1 HARI

O : 1.2915     H : 1.2985      L : 1.2823      C : 1.2836

PERGERAKAN SEPEKAN 18/11 – 22/11 : NEGATIF

RANGE SEPEKAN : 162 PIP

Secara Fundamental, Nilai tukar Poundsterling merosot ke level terendah dan diturup negatif di harga 1.2829 terhadap Dolar AS pada sesi perdagangan akhir pekan Jumat 22/11 (atau Sabtu 23/11 dinihari WIB) setelah hasil survei Purchasing Managers’ Index (PMI) untuk sektor manufaktur dan jasa sama-sama dilaporkan mengalami kontraksi.

Kekhawatiran tentang pemilu bulan depan juga mulai merebak kembali, sehingga semakin menekan posisi Sterling versus mata uang utama lain. IHS Markit melaporkan bahwa data PMI preliminer untuk sektor manufaktur Inggris merosot makin jauh dalam teritori kontraksi dari 49.6 menjadi 48.3, meleset dari ekspektasi yang dipatok pada 48.8.

Sementara itu, PMI untuk sektor jasa malah ambrol dari 50.0 menuju 48.6, padahal sebelumnya diperkirakan bakal naik ke 50.1. Skor PMI di bawah ambang 50 merupakan indikasi terjadinya kontraksi (perlambatan) dalam sektor ekonomi terkait.

Menurut IHS Markit, latar belakang buruknya kinerja ekonomi masih tetap ketidakpastian brexit. Lebih konkritnya, laporan dari responden survei sebagian besar menuding kondisi ekonomi domestik lebih lemah karena kurangnya kejelasan terkait brexit, bersama dengan tekanan ketidakpastian baru untuk sektor bisnis dari pemilu yang akan datang.

Viraj Patel, seorang pakar strategi forex dari Arkera, menilai, “Data dari Inggris nampaknya tak menjanjikan. Bisa jadi malah mendorong satu orang lagi dalam MPC (komite kebijakan moneter bank sentral Inggris -red) untuk mendukung pemangkasan suku bunga lebih awal pada rapat tanggal 19 Desember (tentu saja ini tergantung hasil pemilu). Namun, saya masih berpikir MPC akan menunggu hingga tahun baru sebelum memutuskan untuk memangkas suku bunga. Banyak hal bisa berubah hingga saat itu tiba.”

Senada dengan Patel, Artur Baluszynski dari Henderson Rowe berpendapat, “Angka PMI hari ini telah menggerakkan perekonomian Inggris lebih jauh ke dalam teritori kontraksi. Brexit, perang dagang, dan sekarang ketidakpastian tambahan dari pemilu dini, telah menekan para pebisnis dan konsumen. Manifesto Partai Labour yang diumumkan kemarin, kemungkinan akan semakin menciptakan ketakutan bagi perusahaan asal Inggris dan konsumen kelas menengah, yang bisa jadi tergambarkan dengan kuat dalam data bulan depan, kemungkinan membuat BoE siaga untuk menstimulasi perekonomian.”

Sebagaimana diketahui, ada tiga skenario untuk hasil pemilu Inggris pada tanggal 12 Desember mendatang. Skenario pertama, partai Konservatif memenangkan kursi mayoritas di parlemen Inggris. Skenario ini merupakan rute terbaik yang berpotensi bullish bagi GBP.

Dua skenario lain dipandang negatif bagi GBP, yaitu kemungkinan parlemen menggantung karena tak ada partai yang berhasil memenangkan kursi mayoritas, serta partai Labour memenangkan kursi mayoritas. Pasalnya, partai Labour bercita-cita untuk menggelar referendum brexit kedua, serta memaparkan arah kebijakan yang dianggap terlalu sosialis dan anti-pasar.

Secara Teknikal, PELEMAHAN pasangan harga GBPUSD mungkin masih akan berlanjut berdasarkan formasi candlestick weekly. Namun demikian tetap perlu diwaspadai KOREKSI intraday BULLSH yang mungkin akan terjadi pada timeframe Daily. Apabila minggu depan terjadi breakout BULLISH pada level 1.2901, kemungkinan harga akan kembali ke level 1.2958 – 1.3014 – 1.3062. Namun sebaliknya apabila terjadi breakout BEARISH pada level 1.2810, maka kemungkinan harga akan kembali melanjutkan gerakan PELEMAHANnya ke area level 1.2760 – 1.2709 – 1.2655.

FS88 JOURNAL GBP TEMPLATE