ForexSignal88.com l Jakarta, 09/02/2019 - Dolar AS menang lagi, menutup sesi perdagangan pekan lalu (4-8 Februari) di wilayah hijau. Formasi bullish dolar AS mulai terbentuk setelah data bulanan sektor ketenagakerjaan AS periode Januari tampil lebih baik walaupun masih ada komponen yang kurang mendukung mata uang tersebut.

Setidaknya, dolar AS saat itu berhasil menahan tekanan yang sempat terlihat sejak pertengahan pekan tersebut saat pasar semakin berpandangan bearish terhadap prospek kenaikan suku bunga Federal Reserve.

Hasil rapat kebijakan Federal Open Market Committee (FOMC) pada akhir Januari adalah suku bunga AS tetap terjaga di bawah 2,5%, sesuai dengan perkiraan mayoritas pengamat dan pelaku pasar.

The Fed sedang berusaha mengakomodasi harapan pasar, dan mungkin juga keinginan Presiden AS Donald Trump, sehingga beralih ke data-driven policy. The Fed juga tampak tidak tegas dan menggunakan bahasa yang samar, membuat pasar semakin meyakini bank sentral ini semakin dekat ke akhir dari siklus fed rate hike selama tiga tahun terakhir.

Di sisi lain, sejauh ini belum terlihat indikasi atau sinyal dari bank sentral utama lainnya untuk segera menaikkan suku bunga acuan mereka.

Beberapa hari sebelumnya, European Central Bank (ECB) bahkan semakin menegaskan kecilnya peluang kenaikan suku bunga setelah menyatakan ekonomi kawasan tersebut sedang bergerak turun, sebagian karena perang dagang dan Brexit.

Sektor jasa Inggris mendorong penguatan dolar AS

Pada hari berikutnya greenback semakin kuat, terbantu oleh penurunan tajam pound sterling setelah indeks manajer pembelian sektor jasa (Services PMI) turun ke level terendah sejak Juli 2016, meningkatkan kekhawatiran pasar tentang kesehatan ekonomi Inggris yang hanya memiliki waktu kurang dari dua bulan sebelum keluar dari Uni Eropa.

Pelemahan sterling terhadap greenback diperburuk oleh kekhawatiran baru atas potensi no-deal Brexit yang mencuat lagi ke permukaan. Perdana Menteri Inggris Theresa May mengatakan pada hari Selasa bahwa ia akan mengusahakan perubahan pada backstop Irlandia.

Namun, menurut PM May, ia berhenti mengupayakan penghapusan backstop dari perjanjian penarikan diri Inggris, memicu kekhawatiran pasar bahwa ia tidak yakin pada komitmennya untuk mendukung “Brady Amendment” yang mengusulkan penggantian backstop dengan pengaturan alternatif lainnya.

Brady Amendment” yang diajukan oleh seorang anggota parlemen senior Tory (Partai Konservatif) Graham Brady dan bertujuan untuk menegosiasikan kembali backstop Irlandia, memenangkan dukungan dari anggota parlemen Inggris dengan margin tipis 16 suara pada pekan sebelumnya.

Pasar bereaksi ringan terhadap SOTU

Pada Rabu pagi waktu Indonesia atau Selasa malam waktu AS, Presiden AS Donald Trump menyampaikan State of The Union (SOTU), pidato kenegaraan tahunan. Awalnya, para pelaku pasar forex dan emas tidak bereaksi terhadap SOTU Trump karena ia memang tidak banyak menyebut poin besar selain mengulangi tuntutan untuk dana pembangunan tembok perbatasan.

Namun setelah dicerna, tidak berubahnya tuntutan Trump tersebut dapat menjadi bara pemantik penutupan pemerintahan (shutdown) lainnya, apalagi batas waktu kesepakatan dana talangan pembukaan pemerintahan saat shutdown selama 35 hari akan berakhir pada 15 Februari.

Dari shutdown terakhir itu, meskipun sebuah hal yang negatif bagi dolar AS, terlihat mata uang tersebut tidak terlalu tertekan.

Sedangkan di sisi lain, Trump juga tampak optimistis kesepakatan dagang yang adil dengan China akan tercapai, dan situasi ini positif bagi greenback.

Apalagi Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengatakan pada hari Rabu bahwa ia dan pejabat AS lainnya akan melakukan perjalanan ke Beijing di minggu ini untuk melanjutkan pembicaraan perdagangan.

Sementara itu fundamental Inggris, Uni Eropa dan Australia tak kunjung membaik. Brexit belum pasti akan berjalan mulus, Eropa dibayangi resesi, dan bank sentral Australia urung menaikkan suku bunganya.

BoE cukup optimistis namun dolar AS tetap kuat

Penguatan dolar AS belum terbendung hingga sesi Kamis berakhir, meskipun penguatannya tidak menyeluruh alias parsial. Terhadap euro, dolar Australia dan Selandia Baru, greenback terus menekan. Namun terhadap yen dan sterling, dolar AS yang tertekan.

Meningkatnya kekhawatiran tentang memburuknya prospek pertumbuhan zona euro, membantu dolar AS mendominasi mata uang tunggal zona tersebut.

Komisi Eropa dengan tajam memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi zona euro tahun ini dan selanjutnya, dan memperkirakan negara-negara terbesar di Eropa akan terhambat oleh perdagangan global dan tantangan domestik.

Ketegangan perdagangan global dan meningkatnya hutang publik mempercepat perlambatan di negara-negara terbesar di blok itu, mempersulit rencana ECB untuk kenaikan suku bunga acuannya pada tahun ini dan melemahkan mata uang tunggal zona tersebut.

Pasar juga kembali dihantui oleh potensi berlanjutnya perang dagang AS-China setelah para pejabat AS menyebut sulit bagi para pemimpin kedua negara besar itu untuk bertemu sebelum batas akhir “gencatan senjata” perang dagang pada 1 Maret.

Berkaca dari situasi serupa sejak pertengahan tahun lalu, dolar AS diuntungkan oleh memanasnya perseteruan perdagangan antara dua raksasa ekonomi dunia itu karena pasar bertaruh AS bakal jadi pemenangnya.

Sementara itu pound sterling mendapat sedikit angin surga setelah Bank of England (BoE) menyebut pertumbuhan ekonomi Inggris dapat pulih dengan adanya harapan negara itu dapat meraih kemajuan dalam negosiasi Brexit selanjutnya.

Sedangkan dolar Australia terus mengalami tekanan jual. Keputusan Reserve Bank of Australia (RBA) untuk merevisi lebih rendah perkiraan pertumbuhan dan inflasi membuat mata uang tersebut tertekan.

Dolar AS menghijau di penutupan pekan lalu

Seperti disebut di atas, akhirnya greenback membukukan penutupan positif dengan indeks dolar AS berakhir lebih tinggi 1,18% dari penutupan pekan sebelumnya, penutupan positif selama tujuh hari secara berurutan.

Para investor menyadari dolar AS tetap menjadi safe haven terbaik di tengah ketidakpastian ekonomi global dan geopolitik yang masih membayangi, bahkan mereka lebih menyukai dolar AS ketimbang emas yang juga aset safe haven.

Harga emas berakhir negatif 0,26% di pekan lalu namun tetap bertahan di atas level psikologis $1300, melanjutkan konsolidasi jangka pendek.

Jurnal Mingguan Lainnya

November 23, 2019

Sekilas Forex: Peringatan Baru Terhadap Resiko Global Economic Slowdown

in Jurnal Mingguan by Super User
ForexSignal88.com l Jakarta, 23/11/2019 - Sebuah organisasi ekonomi internasional terkemuka telah memperingatkan bahwa risiko terhadap pandangan global telah meningkat. Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan - OECD - mengatakan dalam sebuah…
October 05, 2019

Sekilas Forex: Harga Emas Akan Terus Naik Menurut Pengamat Ekonomi. Apa Kata Mereka?

in Jurnal Mingguan by Super User
ForexSignal88.com l Jakarta, 05/10/2019 - EMAS belakangan ini menjadi primadona investasi lantaran telah menunjukan trend naik yang cukup konsisten beberapa bulan kebelakang di 2019 ini. Ketidakpastian ekonomi yang terjadi pada Amerika Serikat seperti halnya…
September 20, 2019

Brexit: Semua Yang Perlu Anda Ketahui Tentang BREXIT dan Pengaruhnya Kepada Poundsterling

in Jurnal Mingguan by Super User
ForexSignal88.com - BREXIT merupakan sebuah hal yang penting untuk kamu ketahui di dalam perkembangan dunia finansial internasional saat ini. Deadline atau batas akhir waktu untuk ini terjadi sudah hampir mendekati dan kelihatannya masih terus terjadi…
September 07, 2019

Sekilas Forex: Trade Talk AS dan China Akan Kembali Digelar. Ada Bocoran Bahwa Trade Talk Kali Ini Akan Menghasilkan Sesuatu Yang Substansial

in Jurnal Mingguan by Super User
ForexSignal88.com l Jakarta, 24/08/2019 - Sudah memasuki bulan ke-18 perundingan antara Amerika Serikat dan China tidak menghasilkan apa-apa kecuali perang tarif yang semakin meningkat. Tarif bahkan dikabarkan akan di lipat gandakan demi menekan masing-masing…
August 24, 2019

Sekilas Forex: Pengaruh Federal Reserve Ternyata Lebih Besar Terhadap Perekonomian Dunia

in Jurnal Mingguan by Super User
ForexSignal88.com l Jakarta, 24/08/2019 - Berdasarkan sebuah research yang bertajuk, "“Mind the Gap in Sovereign Debt Markets,” berpendapat bahwa kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh Federal Reserve mempunyai pengaruh lebih dari hanya sekedar kepada…