ForexSignal88.com l Jakarta, 13/06/2019 – Para pedagang forex dan emas tampak mengabaikan data inflasi sehingga dolar AS mampu berbalik menguat pada sesi Rabu. Namun fokus pasar tetap tertuju pada ketegangan perdagangan dan kebijakan suku bunga AS juga bank sentral lainnya.

Greenback belakangan ini berada di bawah tekanan karena tekanan inflasi berkurang dan sejumlah data ekonomi yang pesimistis telah menambah spekulasi pasar bahwa Federal Reserve kini lebih dekat dengan kebijakan pemotongan suku bunga.

Namun, posisi dolar AS terhadap euro masih diuntungkan dari tingkat suku bunga AS yang relatif lebih tinggi daripada di Eropa. Perbedaan yang sangat besar antara suku bunga The Fed dan European Central Bank (ECB) terbukti menahan rally euro/dolar AS yang sempat terjadi.

Euro juga tertekan karena Presiden AS mengatakan dia sedang mempertimbangkan sanksi atas proyek pipa gas alam Nord Stream 2 Rusia dan memperingatkan Jerman agar tidak bergantung pada Rusia untuk energi.

Sebelum rebound cepat, dolar AS sempat turun tajam pada hari Rabu setelah indeks harga konsumen naik 0,1% bulan lalu. Tidak termasuk komponen makanan dan energi yang mudah berubah, inflasi konsumen inti (core CPI) naik 0,1% untuk bulan keempat berturut-turut.

Para pejabat The Fed, termasuk Ketua Jerome Powell, pun telah berusaha menjelaskan bahwa tekanan harga yang rendah bersifat sementara.

The Fed diperkirakan tidak akan memangkas suku bunganya pada rapat 18-19 Juni, meskipun para investor akan terus mencari sinyal baru yang dapat memperkuat wacana pemangkasan suku bunga.

Para pedagang suku bunga berjangka sekarang melihat peluang 22% untuk pemotongan di bulan Juni, dan kemungkinan 85% untuk pemotongan di bulan Juli.

Sebab itulah dolar AS mampu berbalik memukul rivalnya kemarin sekaligus menahan rally harga emas yang sempat melonjak ke $1338,15 per ounce.

Inflasi yang rendah merupakan hal dikhawatirkan The Fed selain dampak perang perdagangan AS-China yang menjadi ancaman bagi pertumbuhan ekonomi AS dan global.

Meskipun kemarin tersiar kabar Presiden AS optimistis bakal segera meraih kesepakatan dengan China, para investor cemas bahwa konflik perdagangan akan menyebar ke Jepang dan Eropa.

Jadi dari dinamika pasar kemarin dapat disimpulkan, tampaknya masih terlalu dini untuk mengatakan bahwa laporan inflasi AS terkini dapat menguatkan peluang penurunan suku bunga The Fed, meskipun seperti disebut di atas, para pedagang tetap yakin pada bulan depan bakal terjadi pemangkasan suku bunga AS.

Untuk hari ini pasar tetap cenderung berkonsolidasi guna mencari arah pasti, sementara dolar AS berpeluang untuk terus bangkit pasca datangnya tekanan jual sejak akhir Mei.

Sejumlah data penting hari ini seperti data ketenagakerjaan Australia, inflasi konsumen Jerman, keputusan suku bunga bank sentral Swiss, dan data impor serta klaim pengangguran AS tampaknya tidak dapat menggeser pandangan pasar dari isu perang dagang dan suku bunga bank sentral utama.