“Bom Waktu Demografis” yang Mengancam Ekonomi Jepang Juga Mengintai AS

ForexSignal88.com l Jakarta, 31/05/2017 – Sumber daya manusia produktif adalah salah satu modal dasar pembangunan ekonomi. Masalah ini terkait erat dengan faktor demografis, atau lebih sederhananya susunan/struktur populasi, suatu negara.

Salah satu ekonomi besar yang sedang menyimpan “bom waktu demografis” adalah Jepang. Bangsa Jepang merupakan The Graying Nation (bangsa yang menua) karena selain jumlah generasi tua semakin banyak, jumlah penduduknya mulai menyusut, yang salah satu penyebab utamanya adalah jumlah kelahiran bayi yang semakin sedikit setiap tahunnya.

Pada menjelang akhir tahun lalu harian bisnis Nikkei dan kantor berita Kyodo melaporkan bahwa jumlah kelahiran bayi di Jepang di tahun 2016 sebanyak 980.000 hingga 990.000 jiwa. Jadi untuk pertama kalinya jumlah kelahiran di Jepang jatuh di bawah 1 juta kelahiran per tahun sejak data ini dicatat pada tahun 1899.

Pengurangan jumlah usia produktif pada suatu saat nanti akan menjadi masalah besar bagi ekonomi dan sosial, bahkan mungkin berdampak pula pada pertahanan dan eksistensi negara tersebut.

Selama lima tahun terakhir, ekonomi Jepang telah mengalami kontraksi lebih dari dua triliun dolar dalam angka produk domestik bruto (PDB) dan populasi sejak 2010 hingga 2015 sudah berkurang 1 juta jiwa.

Amerika Serikat (AS) yang sedang berada di bawah kepemimpinan presiden yang proteksionis dan berusaha mengurangi arus masuk pekerja imigran secara signifikan, juga berpotensi akan menghadapi masalah serupa. Jika AS tidak terus berinvestasi pada pekerja imigran dan jadwal kerja yang fleksibel, maka AS hanya akan berada di beberapa dekade di belakang ledakan “bom waktu demografis” Jepang.

Menurut para ahli, “bom waktu demografis” terjadi saat tingkat kesuburan reproduksi suatu bangsa jatuh pada saat bersamaan dimana terjadi pula peningkatan jumlah penduduk berumur panjang. Tanpa kaum muda yang mendukung generasi yang lebih tua, ekonomi dapat menyusut, memberi tekanan lebih besar kepada generasi muda tersebut sehingga memaksa mereka untuk menjaga ukuran keluarga tetap ramping (jumlah anak sedikit atau tanpa anak) yang ramah anggaran.

Menurut Mary Brinton, sosiolog dari Harvard, kasus Jepang sangat ekstrem. Namun, laporan para peneliti UBS pada tahun 2016 menemukan bahwa rasio penduduk usia kerja terhadap populasi di sejumlah negara industri lainnya, termasuk AS, memiliki kemiripan yang mencolok dengan rasio di Jepang pada tahun 1990-an. Jadi kini ekonomi AS juga terancam oleh ledakan “bom waktu demografis” tersebut.

Sumber berita: ForexSignal88, Business Insider, Nikkei Business Daily, Kyodo News Agency

Sumber gambar: NDTV

{loadposition socialshare}

Artikel Terkait Lainnya

 

{loadposition artikelterkait}

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *